Fiqh Al-Buyu
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Atas dasar pemenuhan kebutuhan sehari –hari, maka terjadilah suatu
kegiatan yang di namakan jual beli. Jual beli menurut bahasa artinya menukar
sesuatu dengan sesuatu, sedang menurut syara’ artinya menukar harta dengan
harta menurut cara-cara tertentu (‘aqad). Sedangkan riba yaitu memiliki sejarah
yang sangat panjang dan prakteknya sudah dimulai semenjak banga Yahudi sampai
masa Jahiliyah sebelum Islam dan awal-awal masa ke-Islaman. Padahal semua agama
Samawi mengharamkan riba karena tidak ada kemaslahatan sedikitpun dalam
kehidupan bermasyarakat. Allah SWT
berfirman:
فَبِظُلْمٍ مِّنَ الَّذِينَ هَادُواْ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ
طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَن سَبِيلِ اللّهِ كَثِيرًا
وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُواْ عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ
بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas
mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi
mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan
disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang
daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil.
Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa
yang pedih. (QS an-Nisaa’ 160-161)
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ
الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ
إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ
الرِّبَا
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri
melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan)
penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka
berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal
Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. (QS. Al-Baqarah :
275)
1.2 Rumus Masalah
1)
Pengertian Jual Beli ( Al
Buyu’ )
2)
Rukun
dan Syarat Jual Beli
3)
Hal
– hal yang terlarang dalam jual beli
4)
Macam-macam jual beli
1.3 Tujuan
1)
Mengetahui
Pengertian Jual Beli ( Al Buyu’ )
2)
Mengetahui
Rukun dan Syarat Jual Beli
3)
Mengetahui
Hal – hal yang terlarang dalam jual beli
4)
Mengetahui
Macam-macam jual beli
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian
Jual Beli (Al Buyu’)
Jual beli Adalah proses pemindahan hak milik/barang atau harta
kepada pihak lain dengan menggunakan uang sebagai alat tukarnya. Menurut
etimologi, jual beli adalah pertukaran sesuatu dengan sesuatu (yang lain). Kata
lain dari jual beli adalah al-ba’i, asy-syira’, al-mubadah, dan at-tijarah.
Dasar Hukum Jual Beli, Landasan atau dasar hukum mengenai jual beli
ini disyariatkan berdasarkan Al-Qur’an, Hadist Nabi, dan Ijma’ Yakni :
1.
Al
Qur’an
Yang mana Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa : 29
“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu makan harta sesamamu
dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan
suka sama suka diantara kamu” (QS. An-Nisa : 29).
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS.
Al-Baqarah : 275).
2.
Sunnah
Nabi, yang mengatakan :” Suatu ketika Nabi SAW, ditanya tentang
mata pencarian yang paling baik. Beliau menjawab, ’Seseorang bekerja dengan
tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Bajjar, Hakim yang
menyahihkannya dari Rifa’ah Ibn Rafi’). Maksud mabrur dalam hadist adalah jual
beli yang terhindar dari usaha tipu-menipu dan merugikan orang lain.
3.
Ijma’
Ulama telah sepakat bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan
bahwa manusia tidak akan mampu mencukupi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang
lain. Namun demikian, bantuan atau barang milik orang lain yang dibutuhkannya
itu, harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai. Mengacu kepada ayat-ayat
Al Qur’an dan hadist, hukum jual beli adalah mubah (boleh). Namun pada situasi
tertentu, hukum jual beli itubisa berubah menjadi sunnah, wajib, haram, dan
makruh.
2.2. Rukun dan Syarat Jual Beli
Rukun dan syarat jual beli adalah ketentuan-ketentuan dalam jual
beli ayang harus dipenuhi agar jual belinya sah menurut syara’ (hukum islam).
1)
Rukun
Jual Beli:
A.
Dua
pihak membuat akad penjual dan pembeli
B.
Objek
akad (barang dan harga)
C.
Ijab
qabul (perjanjian/persetujuan) Orang yang melaksanakan akad jual beli ( penjual
dan pembeli )
ü Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh penjual dan pembeli adalah :
A.
Berakal,
jual belinya orang gila atau rusak akalnya dianggap tidak sah.
B.
Baligh,
jual belinya anak kecil yang belum baligh dihukumi tidak sah. Akan tetapi, jika
anak itu sudah mumayyiz (mampu membedakan baik atau buruk), dibolehkan
melakukan jual beli terhadap barang-barang yang harganya murah seperti :
permen, kue, kerupuk, dll.
C.
Berhak
menggunakan hartanya. Orang yang tidak berhak menggunakan harta milik orang
yang sangat bodoh (idiot) tidak sah jual belinya. Firman Allah ( Q.S.
An-Nisa’(4): 5)
ü Sigat atau Ucapan
Ijab dan Kabul. Ulama fiqh sepakat, bahwa unsur utama dalam jual beli
adalah kerelaan antara penjual dan pembeli. Karena kerelaan itu berada dalam
hati, maka harus diwujudkan melalui ucapan ijab (dari pihak penjual) dan kabul
(dari pihak pembeli).
ü Adapun syarat-syarat ijab kabul adalah :
1.
Orang
yang mengucap ijab kabul telah akil baliqh.
2.
Kabul
harus sesuai dengan ijab.
3.
Ijab
dan kabul dilakukan dalam suatu majlis.
ü Barang yang diperjual-belikan harus memenuhi syarat-syarat yang
diharuskan, antara lain :
1. Barang yang
diperjual-belikan itu halal.
2. Barang itu ada manfaatnya.
3. Barang itu ada ditempat,
atau tidak ada tapi ada ditempat lain.
4. Barang itu merupakan
milik si penjual atau dibawah kekuasaanya.
5. Barang itu hendaklah
diketahui oleh pihak penjual dan pembelidengan jelas, baik zatnya, bentuknya
dan kadarnya, maupun sifat-sifatnya.
Nilai tukar barang yang dijual (pada zaman modern sampai sekarang
ini berupa uang)/ Sesuai pada nilai tukar zamanya.
ü Adapun syarat-syarat bagi nilai tukar barang yang dijual itu adalah
:
A.
Harga
jual disepakati penjual dan pembeli harus jelas jumlahnya.
B.
Nilai
tukar barang itu dapat diserahkan pada waktu transaksi jual beli, walaupun
secara hukum, misalnya pembayaran menggunakan kartu kredit.
C.
Apabila
jual beli dilakukan secara barter atau Al-muqayadah (nilai tukar barang yang
dijual bukan berupa uang tetapi berupa uang).
2)
Syarat
Jual-Beli
1. Syarat jual beli menurut madzhab Hanafiyah. Dalam akad jual beli
harus disempurnakan empat (4) syarat, yaitu:
1.
Syarat
In’iqad (dibolehkan oleh syar’i)
2.
Syarat
Nafadz (harus milik pribadi sepenuhnya)
3.
Syarat
Umum (terbebas dari cacat)
4.
Syarat
Luzum (Syarat yang membebaskan dari khiyar)
2. Syarat jual beli menurut madzhab Malikiyah. Malikiyah merumuskan
3 macam syarat jual beli, yaitu:
ü Aqid
ü Sighat
ü Obyek Jual Beli
3. Syarat jual beli menurut madzhab Syafi’iyah. Syafi’iyah
merumuskan dua kelompok persyaratan jual beli, yaitu:
ü Ijab Qabul
ü Obyek Jual beli.
4. Menurut Madzhab Hanafilah. Madzhab Hanafilah merumuskan tiga
kategori syarat jual beli, yaitu:
ü Aqid
ü Sighat
ü Obyek Jual Beli
2.3. Hal-hal
Yang Terlarang Dalam Jual Beli
1.
Jual
beli dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, antara lain ditinjau dari segi
sah atau tidak sah dan terlarang atau tidak terlarang.
2.
Jual
beli yang sah dan tidak terlarang yaitu jual beli yang terpenuhi rukun-rukun
dan syarat-syaratnya.
3.
Jual
beli yang terlarang dan tidak sah (bathil) yaitu jual beli yang salah satu
rukun atau syaratnya tidak terpenuhi atau jual beli itu pada dasar dan sifatnya
tidak disyariatkan (disesuaikan dengan ajaran islam).
4.
Jual
beli yang sah tapi terlarang ( fasid ). Jual beli ini hukumnya sah, tidak
membatalkan akad jual beli, tetapi dilarang oleh Islam karena sebab-sebab lain.
Terlarang sebab Ahliah (Ahli Akad). Ulama telah sepakat bahwa jual
beli dikategorikan sah apabila dilakukan oleh orang yang baliqh, berakal, dapat
memilih. Mereka yang dipandang tidak sah jual belinya sebagai berikut :
1.
Jual
beli yang dilakukan oleh orang gila.
2.
Jual
beli yang dilakukan oleh anak kecil. Terlarang dikarenakan anak kecil belum
cukup dewasa untuk mengetahui perihal tentang jual beli.
3.
Jual
beli yang dilakukan oleh orang buta. Jual beli ini terlarang karena ia tidak
dapat membedakan barang yang jelek dan barang yang baik.
4.
Jual
beli terpaksa
5.
Jual
beli fudhul adalah jual beli milik orang lain tanpa seizin pemiliknya (selain
dari mencuri).
6.
Jual
beli yang terhalang. Terhalang disini artinya karena bangkrut, kebodohan, atau
pun sakit.
7.
Jual
beli malja’ adalah jual beli orang yang
sedang dalam bahaya, yakni untuk menghindar dari perbuatan zalim.
8.
Terlarang
Sebab Shigat. Jual beli yang antara ijab dan kabulnya tidak ada kesesuaian maka
dipandang tidak sah. Beberapa jual beli yang termasuk terlarang sebab shiqat
sebagai berikut :
9.
Jual
beli Mu’athah. Jual beli yang telah disepakati oleh pihak akad, berkenaan
dengan barang maupun harganya, tetapi tidak memakai ijab kabul.
10.
Jual
beli melalui surat, akad tersebut dipandang tidak sah, seperti surat tidak
sampai ketangan orang yang dimaksudkan.
11.
Jual
beli dengan syarat atau tulisan. Apabila isyarat dan tulisan tidak dipahami dan
tulisannya jelek (tidak dapat dibaca), maka akad tidak sah.
12.
Jual
beli barang yang tidak ada ditempat akad. Terlarang karena tidak memenuhi
syarat in’iqad (terjadinya akad). Jual beli tidak bersesuaian antara ijab dan
kabul.
13.
Jual
beli munjiz adalah yang dikaitkan dengan
suatu syarat atau ditangguhkan pada waktu yang akan datang.
14.
Terlarang
Sebab Ma’qud Alaih (Barang jualan) Ma’qud alaih adalah harta yang dijadikan
alat pertukaran oleh orang yang akad, yang biasa disebut mabi ’(barang jualan)
dan harga. Tetapi ada beberapa masalah yang disepakati oleh sebagian ulama,
tetapi diperselisihkan, antara lain :
15.
Jual
beli benda yang tidak ada atau dikhwatirkan tidak ada.
16.
Jual
beli yang tidak dapat diserahkan. Contohnya jual beli burung yang ada di udara,
dan ikan yang ada didalam air tidak berdasarkan ketetapan syara’.
17.
Jual
beli gharar adalah jual beli barang yang menganung unsur menipu (gharar)..
18.
Jual
beli barang yang najis dan yang terkena najis. Contohnya : Jual beli bangkai,
babi, dll.
19.
Jual
beli barang yang tidak jelas (majhul). Terlarang dikarenakan akan mendatangkan
pertentangan di antara manusia.
20.
Jual
beli yang tidak ada ditempat akad (gaib)
tidak dapat dilihat dan Jual beli buah-buahan atau tumbuhan apabila belum
terdapat buah, disepakati tidak ada akad. Setelah ada buah, tetapi belum
matang, akadnya fasid.
Terlarang Sebab Syara’ Jenis
jual beli yang dipermasalahkan sebab syara’ nya diantaranya adalah:
21.
jual
beli riba
22.
Jual
beli dengan uang dari barang yag diharamkan. Contohnya jual beli khamar,
anjing, bangkai.
23.
Jual
beli barang dari hasil pencegatan barang yakni mencegat pedagang dalam
perjalanannya menuju tempat yang dituju sehingga orang yang mencegat barang itu
mendapatkan keuntungan.
24.
Jual
beli waktu adzan jum’at.Terlarang dikarena bagi laki-laki yang melakukan
transaksi jual belidapat mengganggukan aktifitas kewajibannya sebagai muslim
dalam mengerjakan shalat jum’at.
25.
Jual
beli anggur untuk dijadikan khamar .
26.
Jual
beli barang yang sedang dibeli oleh orang laing. Jual beli hewan ternak yang
masih dikandung oleh induknya.
2.4 Macam – macam jual beli
1. Macam- Macam Jual Beli
Ditinjau dari Segi Obyek Jual Beli
a.
Jual
beli benda yang kelihatan
Yaitu pada waktu melakukan akad jual beli benda atau barang yang
diperjualbelikan ada di depan penjual dan pembeli. Hal ini lazim dilakukan
masyarakat banyak dan boleh dilakukan, seperti membeli beras di pasar.
b.
Jual
beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam perjanjian.
Yaitu jual beli salam (pesanan). Menurut kebiasaan para pedagang,
salam adalah untuk jual beli yang tidak tunai, salam pada awalnya berarti
meminjamkan barang atau sesuatu yang seimbang dengan harga tertentu, maksudnya
ialah perjanjian yang penyerahan barang-barangnya ditangguhkan hingga masa
tertentu, sebagai imbalan harga yang telah ditetapkan ketika akad
c.
Jual
beli benda yang tidak ada serta tidak dapat dilihat
Yaitu jual beli yang dilarang oleh agama Islam karena barangnya
tidak tentu sehingga dikhawatirkan barang tersebut diperoleh dari curian atau
barang titipan yang akibatnya dapat menimbulkan kerugian salah satu pihak.
2. Macam-Macam Jual Beli
Ditinjau dari Segi Pelaku Akad (Subyek)
a.
Dengan
lisan
Penyampaian
akad yang dilakukan oleh kebanyakan orang seperti dengan berbicara.
b.
Dengan
perantara atau utusan
Penyampaian akad jual beli melalui perantara, utusan, tulisan, atau
surat-menyurat sama halnya dengan ijab qabul dengan ucapan, misalnya Via Pos
dan Giro. Jual beli ini dilakukan antara penjual dan pembeli tidak berhadapan
dalam satu majelis akad, tetapi melalui Pos dan Giro, jual beli seperti ini dibolehkan
menurut syara’.
c.
Jual
beli dengan perbuatan
Yaitu mengambil dan memberikan barang tanpa ijab qabul, seperti
seseorang mengambil rokok yang sudah bertuliskan label harganya, dibandrol oleh
penjual kemudian diberikan uang pembayarannya kepada penjual. Jual beli dengan
cara demikian dilakukan tanpa sighat ijab qabul antara penjual dan pembeli,
menurut sebagian Syafi’iyah tentu hal ini dilarang sebab ijab qabul sebagai
rukun jual beli. Tetapi sebagian lainnya, seperti Imam Nawawi membolehkan jual
beli barang kebutuhan sehari-hari dengan cara yang demikian, yakni tanpa ijab
qabul terlebih dahulu.
3. Macam-Macam Jual Beli
Berdasarkan Pertukaran
a. Jual beli saham
(Pesanan)
Jual beli saham adalah juual beli melalui pesanan, yaitu jual beli
dengan cara menyerahkan terlebih dahulu uang muka kemudian barangnya diantar
belakangan.
b. Jual beli muqayadhah
(barter)
Jual beli muqayadhah adalah
jual beli dengan cara menukar barang dengan barang, seperti menukar baju
dengan sepatu.
c. Jual beli muthlaq
Jual beli muthalaq adalah jual beli barang dengan suatu yang telah
disepakati sebagai alat penukaran seperti uang
d. Jual beli alat penukar
dengan alat penukar
Jual beli alat tukar dengan alat penukaran adalah jual beli barang
yang bisa dipakai sebagai alat penukar dengan alat penukar lainya, seperti uang
perak dengan uang emas.
4. Macam-Macam Jual Beli
Berdasarkan Segi Harga
a. Jual beli yang
menguntungkan (al-murabbahah).
b. Jual beli yang tidak
menguntungkan (at-tauliyah)
Yaitu jual beli yang tidak menguntungkan yang menjual barang dengan
harga aslinya, sehingga penjual tidak mendapatkan keuntungan.
a. Jual beli
rugi(al-khasarah).
b. Jual beli al-musawah..
Jual beli al-musawah adalah penjual menyembunyikan harga aslinya
tetapi kedua orang yang akad saling meridhai,jual beli seperti inilah yang
sekarang berkembang.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kata buyu’ adalah bentuk jama’ dari bai’ artinya jual-beli. Bai’
Secara istilah ialah pemindahan hak milik kepada orang lain dengan imbalan
harga. Sedangkan syira’ (pembelian) ialah penerimaan barang yang dijual (dengan
menyerahkan harganya kepada si penjual). Dan seringkali masing–masing dari
kedua kata tersebut diartikan jual beli. Dasar hukum jual beli adalah Al-qur’an
dan Hadist.
Dalam beberapa hadist telah dijelaskan tentang jual beli, seperti :
setiap perdagangan yang bersih dari penipuan dan hal-hal yang diharamkan adalah
salah satu usaha yang dipandang baik oleh Rasulullah SAW. Dalam traksaksi jual
beli harus didasarkan atas suka sama suka. Dalam hadist lain dijelaskan bahwa
Allah melimpahkan rahmat kepada seorang hamba yang mudah dalam menjual dan
mudah dalam mengembalikan hutang.
Sesuatu yang buruk sudah pasti diharamkan oleh Allah begitu juga
dengan jual beli. Adapun contoh jual beli yang dilarang oleh Allah SWT seperti
jual beli khamr (minuman keras/segala sesuatu yang memabukkan), bangkai, babi,
dan berhala. Jual beli al-hashah ( dengan melempar batu ) dan jual beli gharar
juga termasuk jual beli yang diharamkan oleh Allah SWT.
Komentar
Posting Komentar