Fenomenologi

 

Abstrak

 

            Fenomenologi semakin sering digunakan sebagai metode penelitian keperawatan. Fenomenologi merupakan pendekatan ilmiah yang bertujuan untuk menelaah dan mendeskripsikan fenomena sebagaimana fenomena tersebut dialami secara langsung tanpa adanya proses interprestasi dan abstraksi.Terdapat banyak ahli fenomenologi dengan pemahaman yang berbeda-beda baik sebagai filosofi maupun sebagai metode penelitian. Walaupun demikian, Husserl tetap dikenal sebagai penemu dan tokoh sentral fenomenologi. Fenomenologi Husserl menekankan bahwa untuk memahami fenomena seseorang harus menelaah fenomena apa adanya. Oleh karna itu seseorang harus menyimpan sementara atau mengisolasi asumsi, kekayaan, dan pengetahuan yang telah dimiliki agar mampu melihat fenomena apa adanya atau melakukan proses bracketing.Selanjutnya, fenomena hanya terdapat pada kesadaran seseorang yang mengalaminya. Karna itu fenomena hanya dapat dialami  melalui orang yang mengalami. Husserl tidak pernah menerjemahkan filosofinya menjadi metode penelitian terstruktur. Walaupun demikian terdapat bermacam-macam metode yang dianggap paling cocok dan sesuai dengan filosofi Husserl seperti metode Spiegelberg dan Coalizzi.

Kata Kunci : Bracketing, Husserl, Fenomenologi

 

--------------------------------------


 


A.       LATAR BELAKANG

Ilmu filsafat adalah ilmu yang menjadi induk segala pengetahuan. Filsafat merupakan sebuah sistem yang komprehensif dari ide-ide mengenai keadaan yang murni dan realitas yang terjadi dalam hidup. Filsafat juga dijadikan panduan dalam kehidupan, karena hal-hal yang berada di dalam lingkupnya selalu mengangkut sesuatu yang mendasar dan membutuhkan penghayatan. Filsafat juga digunakan untuk menentukan jalan yang akan diambil seseorang dalam kehidupannya. Filsafat juga memberi petunjuk mengenai tata cara pergaulan antar sesama.

Tak lepas dari semua ini, pada dasarnya filsafat adalah bersumber dari pertumbuhannya pola pikir manusia. Semua yang ada, atau yang telah ada bisa diperhatikan dan dipikirkan secara rasional. Karena berpikir adalah aktifitas individu dan manusia mempunyai kemerdekaan untuk berpikir. Berpikir secara mendalam untuk menghasilakn suatu ilmu yang bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa berfilsafat adalah mendalami sesuatu berdasarkan penalaran yang dimiliki seseorang. Dan akhirnya bisa melahirkan fenomenologi.

Ilmu fenomenologi dalam filsafat bisa dihubungkan dengan ilmu hermeneutik. Yaitu ilmu yang mempelajari arti daripada fenomena ini, keduanya membicarakan manusia sebagai realitas eksistensi yang ditentukan oleh kondisi-kondisi fisik dan budaya yang mempengaruhi. Fenomenologi dan hermeneutik saling bersentuhan, namun juga mempunyai perbedaan, antara kekuatan dan kelemahannya masing-masing.

 

B.       PEMBAHASAN

1.        Pengertian Fenomenologi

Fenomenologi adalah studi tentang Phenomenon. Kata ini berasal dari bahasa Yunani Phainein berarti menunjukkan. Dari kata ini timbul kata Pheinomenon berarti yang muncul dalam kesadaran manusia. Dalam fenomenologi, ditetapkan bahwa setiap gambaran dalam pikiran manusia, menunjukkan pasa suatu hal keadaan yang disebut dengan intentional (berdasarkan niat atau keinginan).

Dalam bahasa indonesia biasa dipakai istilah gejala. Secara istilah, fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang tampak atau yang menampakkan diri.

Secara harfiah, fenomenologi adalah aliran atau faham yang menganggap bahwa fenomenalisme adalah sumber pengetahuan atau kebenaran. Fenomenologi  juga adalah suatu metode pemikiran. Fenomenologi merupakan sebuah aliran. Yang berpendapat bahwa, hasrat yang kuat untuk mengerti yang sebenarnya dapat dicapai melalui pengamatan terhadap fenomena atau pertemuan kita dengan realita. Karenanya, sesuatu yang terdapat dalam diri kita akan merangsang alat inderawi yang kemudian diterima oleh akal (otak) dalam bentuk pengalam dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Penalaran inilah yang dapat membuat manusia mampu berpikir secara kritis.

Fenomenologi merupakan kajian tentang bagaimana manusia sebagai subyek yang memaknai subyek-subyek disekitarnya. Ketika berbicara tentang makna dan pemaknaan yang dilakukan, maka hermeneutik terlibat didalamnya. Pada intinya, bahwa aliran fenomenologi mempunyai pandangan bahwa pengetahuan yang kita ketahui sekarang ini merupakan pengetahuan yang kita ketahui sebelumnya melalui hal-hal yang pernah kita lihat, rasa, dan didengar oleh alat indera kita.

Fenomenologi merupakan suatu pengetahuan tentang kesadaran murni yang dialami manusia. Seorang fenomenolog juga melihat gejala fenomenolog bergerak di bidang yang pasti. Hal yang menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensi yang langsung. Fenomenologi bisa disebut sebagai suatu metode pemikiran, “a way of looking at things”.

2.        Pendekatan Fenomenologi

Pendekatan ini memusatkan perhatian pada pengalaman subyektif. Pendekatan fenomenologi ini berhubungan dengan pandangan pribadi mengenai dunia dan penafisiran dengan berbagai kejadian yang dihadapinya. Pendekatan tersebut mencoba memahami kejadian fenomenal yang dialami individu tanpa adanya beban prakonsepsi.

Pendekatan fenomenologi meliputi :

a.         Pengamatan, yaitu replika dari benda diluar manusia yang intrapsikis, dibentuk berdasar rangsang-rangsang dari obyek.

b.        Imajinasi, yaitu suatu perbuatan (act) yang melihat suatu obyek yang ada atau sama sekali tidak ada melalui suatu isi psikis atau fisik yang memberikan dirinya sebagai representasi dir dari hal lain.

c.         Berpikir secara abstrak. Bidang yang sangat penting dalam hidup psikis manusia ialah pikiran abstark.

d.        Merasa atau menghayati. Merasa ialah gejala lain dari kesadaran mengalami.

Dengan demikian, fenomenologi adalah refleksi mengenai pengalaman langsung dari setiap tindakan secara intensif dan yang berhubungan dengan obyek.

3.        Tokoh-Tokoh Filsafat Fenomenologi

a.        Edmun Gustav Aibercht Husserl (1857 – 1938)

Menurut Husserl, memahami fenomenologi sebagai suatu metode dan ajaran filsafat. Sebagai metode, Husserl membentaangkan langkah-langkah yang harus diambil agar sampai pada fenomeno yang murni. Untuk melakukan itu, harus dimulai dengan subjek (manusia) serta kesadarannya dan berusaha untuk kembali pada kesadaran murni. Sedangkan sebagai filsafat, fenomenologi memberikan pengetahuan yang perlu dan essential tentang apa yang ada.

Metode fenomenologi menurut Husserl, menekankan satu hal penting, yaitu penundaan keputusan. Penundaan keputusan harus ditunda (epoche) atau dikurung (bracketing) untuk memahami fenomena. Pengetahuan yang kita miliki tentang fenomena itu harus kita tinggalkan atau lepaskan dulu, agar fenomena itu dapat menampakkan dirinya sendiri.

Kata kunci untuk memahami filsafat Husserl, ialah :

·           Fenomena adalah realitas esensi atau dalam fenomena terkandung pula nomena (sesuatu yang berada di balik fenomena)

·           Pengamatan adalah aktivitas spiritual atau rohani.

·           Kesadaran adalah sesuatu yang intensional (terbuka dan terarah pada subjek) 

·           Substansi adalah kongkret yang menggambarkan isi dan struktur kenyataan dan sekaligus bisa terjangkau.

Usaha untuk mencapai segala sesuatu dengan melalui reduksi atau yang disebut dengan penyaringan, yang terdiri dari :

·           Reduksi fenomenologi, yaitu menyaring pengalaman-pengalam dengan maksud untuk mendapat kan fenomena dalam wujud yang semurni-murni nya.

·           Reduksi eideitis, yaitu dengan menyaring atau penempatan dalam tanda kurung sebagai hal yang bukan eidos atau intisari atau hakikat gejala fenomena.

·           Reduksi transcendental, yaitu penerapannya berdasarkan subyeknya sendiri dan perbuatannya dengan kesadaran yang murni.

Namun, menurut para pengikut fenomologi suatu fenomena tidak selalu harus dapat diamat dengan indera. Sebab, fenomena dapat juga dilihat atau ditilik secara rohani tanpa melewati indera, dan fenomena tidak perlu suatu peristiw.

b.        Max Scheller (1874-1928)

Scheller berpendapat bahwa metode fenomenologi sama dengan cara tertentu untuk memandang realitas. Dalam hubungan ini terdapat hubungan langsung dengan realitas berdasarkan intuisi (pengalam fenomenologi).

Terdapat tiga fakta yang memegang peran penting dalam pengalaman filsafat, yaitu :

·           Fakta natural, yaitu berdasarkan pengalaman inderawi yang menyangkut benda-benda yang nampak dalam pengalaman biasa.

·           Fakta ilmiah, yaitu yang mulai melepas diri dari penerapan inderawi yang langsung semakin abstrak.

·           Fakta fenomenologis, merupakan isi intuitif yang merupakan hakikat dari pengalaman langsung.

c.         Martin Heidegger (1899 – 1976)

Menurut Heidegger, manusia itu terbuka bagi dunia nya dan sesamanya. Kemampuan seseorang untuk bereksistensi dengan hal-hal yang ada di luar dirinya karena memiliki kemampuan seperti kepekaan, pengertian, pemahaman, perkataan atau pembicaraan.

Bagi Heidegger untuk menjadi manusia utu, maka manusia harus merealisasikan segala potensinya meski dalam kenyataannya seseorang itu tidak mampu merealisasikannya.

Dalam prefektif yang lain mengenai sosok Heidegger menjadi salah satu filsafat yang fenomenal yaitu bahwa ia mengemukakan tentang konsep suasana hati (mood). Seperti yang kita ketahui bahwa dengan suasana hatilah kita diatur oleh dunia kita, bukan dalam pendirian pengetahuan observasional yang berjarak. Biasanya, dengan posisi kita yang sedang bersahabat dengan suasana hati, maka kita akan bisa mengenali diri kita yang sesungguhnya. Karena suasana hati bisa menjadi tolak ukur untuk mengetahui hakikat diri dengan banyaknya pertanyaan yang muncul seperti pencarian jati diri siapa kita sesungguhnya, apa kemampuan kita, dan apa kekurangan atau kelebihan yang kita miliki, bagaimanakah kehidupan kita yang selanjutnya dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Konsep inilah yang menguatkan pendapat banyak orang mengenai sesosok orang yang mampu melihat noumena dan phenoumena.

d.        Maurice Merlean-Ponty (1908 – 1961)

Sebagaimana halnya Husserl, ia yakin seorang filosof benar-benar harus memulai kegiatannya dengan meneliti pengalaman. Pengalamannya sendiri tentang realitas, dengan begitu ia menjauhkan diri dari dua ekstrim yaitu :

·           Pertama, hanya meneliti atau mengulangi penelitian tentang apa yang telah dikatakan orang tentang realita.

·           Kedua hanya memperhatikan segi-segi luar dari pengalaman tanpa menyebut-nyebut realitas sama sekali

Walaupun Marlean-Ponnty setuju dengan Husserl bahwa kitalah yang dapat mengetahui dengan sesuatu dan kita hanya dapat mengetahui benda-benda yang dapat dicapai oleh kesadaran manusia, namun ia mengatakan lebih jauh lagi, yakni bahwa semua pengalaman perseptual membawa syarat yang essensial tentang sesuatu alam di atas kesadaran.

Oleh karena itu deskripsi fenomenologi yang dilakukan Marlean-Ponty tidak hanya berurusan dengan data rasa atau essensi saja, akan tetapi menurutnya, kita melakukan perjumpaan perseptual dengan alam. Marlean-Porty menegaskan sangat perlunya persepsi untuk mencapai yang real.

4.        Kelebihan dan Kekurangan Filsafat Fenomenologi

Kelebihan filsafat fenomologi diantaranya  :

·           Fenomenologi sebagai suatu metode keilmuan, dapat mendiskripsikan penomena dengan apa adanya dengan tidak memanipulasi data, aneka macam teori dan pandangan.

·           Fenomenologi mengungkapkan ilmu pengetahuan atau kebenaran dengan benar-benar yang objektif.

·           Fenomenologi memandang objek kajian sebagai bulatan yang utuh tidak terpisah dari objek lainnya.

Dengan demikian fenomenologi menuntut pendekatan yang holistik, bukan pendekatan partial, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai objek yang diamati, hal ini lah yang menjadi kelebihan filsafat ini sehingga banyak dipakai oleh ilmuan-ilmuan pada saat ini terutama ilmuan sosial, dalam berbagai kajian keilmuan mereka termasuk bidang kajian agama.

Dari berbagai kelebihan tersebut, fenomenologi sebenarnya juga tidak luput dari berbagai kelemahan, diantaranya :

·           Tujuan fenomenologi untuk mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai pandangan sebelumnya, baik dari adat, agama ataupun ilmu pengetahuan, merupakan suatu yang absurd.

·           Pengetahuan yang didapat tidak bebas nilai (value-free), tapi bermuatan nilai (value-bound).

 

5.        Fenomenologi Sebagai Metode Ilmu

Fenomenologi berkembang sebagai metode untuk mendekati fenomena-fenomena dalam kemurniannya. Fenomena di sini dibahami sebagai segala sesuatu dengan suatu cara tertentu yang tampil dalam kesadaran kita. Baik berup sesuatu sebagai hasil rekaan maupun berup sesuatu yang nyata, yang berupa gagasan maupun kenyataan. Yang penting ialah pengembangan suatu metode yang tidak memalsukkan fenomena, melainkan dapatkan mendeskripsikannya seperti penampilannya tanpa pransangka sama sekali.

Filsafat fenomenologi berusaha untuk mencapai pengertian yang sebenarnya dengan cara menerobos semua fenomena yang menampakkan diri menuju kepada bendanya yang sebenarnya. Usaha inilah yang dinamakan untuk mencapai “Hakikat segala sesuatu”.

Untuk itu, Husserl mengajukan dua langkah yang harus ditempuh untuk mencapai esensi fenomena, yaitu metode epoche dan eidetich vision.

Kata epoche berasal dari bahasa Yunani, yang berarti: “menunda keputusan” atau “mengosongkan diri dari keyakinan tertentu”. Epoche bisa juga berarti tanda kurung (bracketing) terhadap setiap keterangan yang diperoleh dari suatu fenomena yang nampak, tanpa memberikan putusan benar salahnya terlebih dahulu. Fenomena yang tampil dalam kesadaran adalah benar-benar natural tanpa dicampuri oleh presupposisi pengamat.

6.        Kontribusi Fenomenologi Terhadap Dunia Ilmu Pengetahuan

Memperbincangkan fenomenologi tidak bisa ditinggalkan pembicaraan mengenai konsep Lebenswelt (“dunia kehidupan”). Konsep ini penting artinya, sebagai usaha memperluas konteks ilmu pengetahuan atau membuka jalur metodologi baru bagi ilmu-ilmu sosial serta untuk menyelamatkan subjek pengetahuan.

Edmund Husserl, dalam karyanya, The Crisis of European Science and Transcendental Phenomenology, menyatakan bahwa konsep “dunia kehidupan” (lebenswelt ) merupakan konsep yang dapat menjadi dasar bagi (mengatasi) ilmu pengetahuan yang tengah mengalami krisis akibat pola pikir positivistik dan saintistik, yang pada prinsipnya memandang semesta sebagai sesuatu yang teratur – mekanis seperti halnya kerja mekanis jam. Akibatnya adalah terjadinya ‘matematisasi alam’, alam dipahami sebagai keteraturan (angka-angka). Pendekatan ini telah mendehumanisasi pengalaman manusia karena para saintis telah menerjemahkan pengalaman manusia ke formula-formula impersonal.

Dunia kehidupan dalam pengertian Husserl bisa dipahami kurang lebih dunia sebagaimana manusia menghayati dalam spontanitasnya, sebagai basis tindakan komunikasi antar subjek. Dunia kehidupan ini adalah unsur-unsur sehari-hari yang membentuk kenyataan seseorang, yakni unsur dunia sehari-hari yang ia alami dan jalani, sebelum ia menteorikannya atau merefleksikannya secara filosofis.

Kontribusi dan tugas fenomenologi dalam hal ini adalah deskripsi atas sejarah lebenswelt (dunia kehidupan) tersebut untuk menemukan ‘endapan makna’ yang merekonstruksi kenyataan sehari-hari. Maka meskipun pemahanan terhadap makna dilihat dari sudut intensionalitas (kesadaran) individu, namun ‘akurasi’ kebenarannya sangat ditentukan oleh aspek intersubjektif. Dalam arti, sejauh mana ‘endapan makna’ yang detemukan itu benar-benar di rekonstruksi dari dunia kehidupan sosial, dimana banyak subjek sama-sama terlibat dan menghayati.


C.       KESIMPULAN

Fenomenologi adalah aliran atau faham yang menganggap bahwa fenomenalisme adalah sumber pengetahuan atau kebenaran. Penalaran inilah yang dapat membuat manusia mampu berpikir secara kritis. Fenomenologi merupakan kajian tentang bagaimana manusia sebagai subyek yang memaknai subyek-subyek disekitarnya. Fenomenologi merupakan suatu pengetahuan tentang kesadaran murni yang dialami manusia. Pendekatan ini memusatkan perhatian pada pengalaman subyektif. Pendekatan fenomenologi ini berhubungan dengan pandangan pribadi mengenai dunia dan penafisiran dengan berbagai kejadian yang dihadapinya.  Berpikir secara abstrak. Bidang yang sangat penting dalam hidup psikis manusia ialah pikiran abstark. Sebagai metode, Husserl membentaangkan langkah-langkah yang harus diambil agar sampai pada fenomeno yang murni. Sedangkan sebagai filsafat, fenomenologi memberikan pengetahuan yang perlu dan essential tentang apa yang ada. Penundaan keputusan harus ditunda (epoche) atau dikurung (bracketing) untuk memahami fenomena. Pengetahuan yang kita miliki tentang fenomena itu harus kita tinggalkan atau lepaskan dulu, agar fenomena itu dapat menampakkan dirinya sendiri. Namun, menurut para pengikut fenomologi suatu fenomena tidak selalu harus dapat diamat dengan indera. Scheller berpendapat bahwa metode fenomenologi sama dengan cara tertentu untuk memandang realitas. Menurut Heidegger, manusia itu terbuka bagi dunia nya dan sesamanya. Kemampuan seseorang untuk bereksistensi dengan hal-hal yang ada di luar dirinya karena memiliki kemampuan seperti kepekaan, pengertian, pemahaman, perkataan atau pembicaraan. Bagi Heidegger untuk menjadi manusia utu, maka manusia harus merealisasikan segala potensinya meski dalam kenyataannya seseorang itu tidak mampu merealisasikannya. Biasanya, dengan posisi kita yang sedang bersahabat dengan suasana hati, maka kita akan bisa mengenali diri kita yang sesungguhnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Maksum, Ali. 20111. Pengantar Filsafat; dari masa Klasik hingga masa Postmodern. Yogyakarta. Ar-Ruzz Media

Arifin, Syamsul. 1996. Fenomenologi Agama. Pasuruan. PT. GBI

Achmadi, Asmoro. 2010. Filsafat Umum. Jakarta. PT. Raja Grfindo Persada

Eddles-Hirsch, Katrina. 2015. Phenomenology and Educational Research. International Journal of Advanced Research, Vol. 3 Issue 8, Agustus 2015.

Hasbiansya, O. 2005. “Pendekatan Fenomenologi : Pengantar Praktik Penelitian dalam Ilmu Sosial dan Komunikasi”

Alase, Abayomi. 2017. The Interpretative Phenomenological Analysis (IPA): A Guide to a Good Qualitative Reseach Approach. International Journal of Education and Literacy Studies, Vol. 5 No. 2, April 2017. DOI: 10.7575/aiac.ijels.v.5n.2p.9

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku Filsafat Islam

Fiqh Al-Buyu